Postingan

Radikalisme, Terorisme dan Nilai-nilai Pancasila yang ‘Diperkosa’

Gambar
Kemarin, satuan anti-teror Polri, Densus 88, kembali menangkap sembilan terduga teroris di Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim). Tujuh di antaranya, teridentifikasi pernah melakukan kegiatan gerilyawan di negara konflik, Suriah bersama jaringan terorisme global, Daesh atau ISIS. Fenomena tersebut menjelaskan bahwa radikalisme dan terorisme bukanlah masalah sepele yang dihadapi bangsa Indonesia. Ia merupakan masalah yang kompleks karena melibatkan jaringan-jaringan dan gerakannya terorganisir. Para agennya bergerak di berbagai lini kehidupaan bangsa. bangsa. Ajaran dan doktrin yang mereka tanamkan selain terorganisir juga sangat kuat. Ini terbukti anggota dari agen gerakan garis keras  atau radikalis banyak yang melakukan aksi terorisme hingga melakukan bom. Selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Butuh langkah yang strategis untuk menangkal dan membendung radikalisme dan  terorisme. Radikalisme dan terorisme tidak hanya di atasi ketika sudah te...

INDONESIA, PANCASILA DAN PERSAUDARAAN BANGSA

Gambar
Negara Indonesia merupakan negara yang besar. Sejak awal berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia, para pendiri negara menyadari bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk, karena terdiri dari berbagai suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa daerah, dan agama yang berbeda-beda. Dengan kontribusi tersebut diperlukan setiap langkah dan kebijakan negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang ditujukan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam buku Pancasila Soekarno, Sastrapratedja (dalam jurnal filsafat Pancasila, Desember 1998) mengatakan, "fungsi utama Pancasila" menjadi dasar negara dan jika disebut filsafat yang diperlukan adalah landasan filsafat hidup kenegaraan atau ideologi negara. Pancasila adalah dasar politik yang mengatur dan mengarahkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan hidup bernegara, seperti: pemerintah dalam membuat perundangan-undangan, ekonomi nasional, hidup berbangsa, hubungan warga negara dengan negara, dan hu...

Demokrasi, Seruan People Power dan Cerita Gus Dur

Gambar
Belum juga berakhir ketegangan yang terjadi dalam pemilihan presiden tahun 2019 ini, sejak beberapa tahun terakhir dimulai dengan pemilihan presiden pada tahun 2014 yang juga sama mempertemukan dua calon yaitu Jokowi dan Prabowo, nyatanya juga hadir kembali dalam pemilihan presiden 2019 ini. Berbagai berita dan kabar melaporkan mengenai pencoblosan sampai perhitungan suara cepat atau quick count oleh lembaga-lembaga survei. Keributan mewarnai berbagai tanggapan atas hasil perhitungan lembaga survei yang menunjukkan pasangan Jokowi dan KH. Ma’aruf Amin menang dalam hitung cepat oleh lembaga survei dan pemberitaan atas kemenangan Jokowi dalam hitung cepat, menuai protes dari kubu Prabowo-Sandi. Kubu Prabowo-Sandi merespon hasil perhitungan cepat dengan membandingkan hasil hitung cepat diinternal koalisinya yang hasilnya bertolak belakang dengan hasil perhitungan cepat oleh lembaga survei macam CSIS, Charta dan lain-lain. Selanjutnya kubu Prabowo-Sandi merespon hasil lembaga surv...

TREN ‘RADIKALISASI ONLINE’ DARI NOL SAMPAI MENJADI ‘TERORIS’

Gambar
Beberapa hari terakhir ini pikiran saya terusik dengan beberapa pertanyaan dari berbagai pihak yang intinya sama, yaitu : 1. Bagaimana radikalisasi yang bermula dari hubungan di dunia  online  itu terjadi ? 2. Mengapa akhir-akhir ini banyak perempuan yang terlibat dan mereka ini cenderung lebih nekat daripada para laki-laki ? Saya merasa terpanggil untuk mencoba menjawab pertanyaan itu dari sudut pandang saya dan pengalaman saya sebagai orang yang pernah terjerumus dalam paham radikal dan terlibat dalam kasus terorisme di Indonesia. Saya akan mengawalinya dengan menyajikan rangkuman atau inti dari serial pembahasan yang akan saya sampaikan berikutnya. Nantikan pembahasan dari topik-topik di bawah ini dalam beberapa tulisan ke depan. Note : Semua orang berpeluang untuk jadi ‘Teroris’ secara Online. Jadi waspadalah dan waspadalah ! Titik Awal Push Factor Taubat dari dunia hitam atau ‘Hijrah’ Jenuh dengan pola perjuangan kelompok yang diikutinya yang t...

Indonesia Ini Kurang Islam Apa?

Gambar
Selalu saja ada ustaz yang menjelek-jelekkan negara dan pemerintah. Pemerintah digambarkan anti Islam, menghalangi dakwah, meminggirkan umat Islam, kata mereka. Indonesia punya Kementerian Agama. Anggaran Kemenag tahun 2018 ini 62 T lebih, nomor 3 terbesar setelah Kementerian PUPR (yang tugasnya membangun infrastruktur) dan Kementerian Pertahanan. Anggaran itu lebih tinggi daripada anggaran Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan. Pegawai Kemenag itu umumnya orang Islam. Mungkin ada 90% karyawannya yang muslim, mulai dari menteri sampai ke tukang sapu. Kantornya melayani sampai ke tingkat kecamatan. KUA itu tidak disebut kantor untuk urusan umat Islam. Tapi tidak ada umat agama lain yang dilayani di situ. Itu khusus untuk umat Islam. Setiap tahun ada sekitar 200 ribu umat Islam naik haji. Segenap keperluan mereka dilayani oleh pemerintah. Sejak mulai pendaftaran, persiapan, berangkat, selama di tanah suci, sampai pulang. Ada ribuan pegawai pemerintah dikerahkan untuk...

Perlukah Jihad di Negara Demokrasi?

Gambar
BincangSyariah.Com –  Syariat Islam diturunkan untuk menjamin lima kebutuhan prinsipil dalam kehidupan manusia. Yaitu nyawa, keyakinan, akal pikiran, harta kekayaan dan keturunan. Para ulama menyebutnya  kulliyatul khams . Sebagian para sarjana menyebutnya  maqashid syariah ,  objective of shariah , atau  philosophy of islamic law  (filsafat hukum Islam). Ini kajian penting dan tidak boleh dilewatkan oleh orang-orang yang belajar hukum Islam. Nah, jaminan terhadap kelima kebutuhan di atas dapat terwujud secara efektif melalui instrumen negara. Negara yang dapat menjamin keterpenuhan  kelima prinsip pokok di atas sama dengan menjamin terlaksananya syariat Islam. Sampai di sini ada pandangan unik dari seorang ulama kenamaan Tunisia. Ibnu Ashur (w.1973). Menurutnya, negara-negara demokratis pada prinsipnya telah memberikan jaminan lima prinsip itu. Ibnu Ashur, salah seorang ulama terkemuka yang juga rektor Universitas Zaitunah, Tunisia, pernah m...

Antara Hoax dan Terorisme

Gambar
Negara Indonesia sedang digempur pesta politik. Kubu satu dan kubu lain saling berambisi menggapai kekuasaan. Optimisme memompa andrenalin untuk terus melangkah, tanpa rasa takut, dan tidak berkecil hati. Ambisi seringkali membutakan politikus mengejar apa yang diinginkan. Tidak sedikit politikus terjebak menggunakan cara-cara negatif yang tidak diperbolehkan. Cara-cara negatif yang ngetrend di era kekinian adalah hoax dan terorisme. Beberapa hari silam Indonesia digempur isu hoax dibasmi dengan undang-undang terorisme. Ada sebagian yang setuju, ada sebagian lain yang menyangkal. Saya ingin menyebutkan bahwa hoax dan terorisme adalah dua sosok yang sama, sementara yang membedakan antar masing-masing adalah kedoknya. Kesamaan keduanya disebutkan dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 8 yang berbunyi:  Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Ayat 8 tersebut menyeb...